Rabu, 06 Agustus 2014

" Potret dalam Pasir "


Mentari muncul di ufuk timur 
memancarkan sinarnya yang menembus butiran pasir yang halus
kulihat ombak berderai menerpa karang karang yang kuat. sekuat hati ini..

- Potret dalam Pasir -


" ndah? "
" iya mah? "
" kamu ngapain kok mama perhatiin sekarang sering ngelamun? "
" gapapa mah.. " - jawabku.

 akupun masih terdiam tanpa berkata, sambil terus memandangi mading yang beberapa bulan ini selalu tertempel di sekeliling dinding kamarku dan selalu jadi alasanku tersenyum setiap kali aku memandangnya.

namaku indah. hanya seorang remaja yang sangat suka menulis. karna bagiku, menulis adalah cara yang tepat untuk melukiskan pikiran dan gairah jiwa.

" kamu udah packing barang2? mau bawa koper apa tas carrier? " - ucap mama
" gausah bawa koper mah, aku gak suka. mending bawa carrier aja cukup kok. aku kan bawa baju doang, buku buku nanti biar di paketin aja " - jawabku dengan tenang
" kamu yakin mau pindah kuliah disana? Malang itukan jauh nak. jawa timur, lagipula emang kamu nggak sayang udah 1 tahun kuliah dijakarta ? jujur mama sama papa agak berat sebenernya ngelepas kamu "

aku kembali memikirkan perkataan mama. memang sulit sekali bagiku, jangankan bagi mama dan papa. bagi diriku sendiri saja aku sangat berat meninggalkan kehidupanku dijakarta dan terlebih aku harus meninggalkan keluargaku di ukm kesenian. namun, tekadku sudah bulat. lusa aku akan tetap berangkat ke Malang. aku tak ingin terus terusan terpuruk dalam keadaan ini. aku ingin bangkit. aku ingin menyudahi semua rasa sakit ini. aku memilih untuk pergi bukan karna aku takut menerima kenyataan. namun karna aku ingin fokus dalam merintis karir dan cita citaku.

" yakin mah, mama percaya kan sama aku? aku pasti baik baik aja mah " - jawabku
" yasudah kalau begitu. sini mama bantu packing, besok kita liburan dulu yaaa, kita ke pulau aja. biar kamu refreshing dulu. papa udah pesen travel kok untuk kita berangkat besok " - jawab mama
" iya maaa.. "
" kamu udah pamit sama temen2 kamu dikampus? "
" belum mah, gausah pamit deh kayaknya. aku gakuat takut nangis "
" gakuat ketemu andi ? sulit ya pisah dari dia ? bukannya dia udah punya pacar ya ? " - tanya mama

akupun mengiyakan. waktu pun sudah menunjukkan pukul setengah 12 malam, mama menyuruhku untuk tidur karna besok aku akan berangkat ke pulau bidadari.
aku pun bergegas untuk menutup mataku, namun kedua mata ini tak kunjung tertutup. aku memandang kembali fotoku bersamanya yang diambil ketika bulan desember lalu, saat dia menjadi MC diacara kampusku waktu lalu.
tanpa terasa kuteteskan air mata ini. sungguh betapa aku sangat menyayangi sosoknya. dan aku tak menyangka bahwa kemarin adalah hari terakhir aku bertemu dengannya. dulu sebelum dia...hemmm... aku biasanya suka mengusap rambutnya yang lembut, memandang punggungnya dari belakang, atau hanya memperhatikan saat dia tertawa. aku tak menyangka bahwa nanti aku tak akan bisa merasakan itu lagi. ah sudahlah aku sudah terlalu lelah.

***

sang fajar pun tiba, suasanan mentari pagi itu menghangatkan tubuhku membuatku terbangun daeri tempat tidurku. akupun bergegas mandi dan segera menuju ruang tamu dimana papa dan mama sudah menungguku.
kuliaht lagi madingku, kupandangi terus menerus hingga mataku berkaca kaca. aku pun segera mencopot beberapa lembar foto aku dan diia  yang tertempel disana dan kumasukan kedalam dompet.

" indahhh " - ucap papa
" iya pahhh " - jawabku sambil menuju ruang tamu

aku mama dan papa pun segera berangkat ke ancol karna pagi ini aku akan ke pulau bidadari, dimana nanti kita akan naik speed boat dari ancol. karna pulau bidadari sudah menjadi resort, sehingga hanya diperbolehkan berangkat dari ancol, bukan dari muara angke.

***

beberapa jam kemudian, aku pun sampai dipulau bidadari. aku pun segera berlari ke pantai seorang diri , meninggalkan mama dan ayah yang masih tertinggal di belakang.
aku duduk di pinggir pantai sambil kumainkan pasir putih bersih itu. yah.. pasir putih bersih seperti perasaan jujur yang memaksaku untuk menggali pasir tersebut.
kugali terus pasir itu hingga sedalam betisku, dan ku masukan beberapa fotoku kedalamnya. ku kubur rapat2 tanpa kuberi tanda sedikipun.
tanpa kusadari, mama dan ayah sudah dibelakangku.

" indah ngapain ? - ucap papa
" indah ngubur foto andi ? " - ucap mama sambil menahan tawa
 aku hanya tersenyum kecil, dan kuteruskan tanganku memegangi pasir putih tersebut.
" ndah, perasaan itu adanya disini. dihati kita. seberapapun usaha kamu buat  melenyapkan foto2nya, kalau dalam hati kamu masih ada perasaan buat dia, kamu gak akan pernah bisa lupain dia. sama halnya dengan kamu pergi sejauh apapun, kalau kamu masih menyimpan rasa itu buat dia, sejauh apapun kamu pergi, sejauh apapun kaki kamu melangkah. perasaan itu akan tetep ada ndah.. " - ucap mama

aku menangis, aku menangis dipelukan mama. dan betapa bodohnya aku saat memutuskan untuk pergi bahkan mengubur fotonya, padahal sudah jelas jelas perasaanku masih tetap saja untuknya.
akupun membongkar kembali pasir tersebut dan kuambil fotonya yang sudah sempat basah. kumasukan kembali kedalam dompetku dan akan terus aku tempel dimading kamarku seperti sedia kala.