Rabu, 27 Mei 2015

Aku Ingin (Fiction)

Sebut saja aku Senja . Aku masih terdiam sepi. Duduk menikmati sore itu didepan jendela kamar yang langsung menghadap kearah danau. Pikiranku kembali menerawang pada saat beberapa waktu lalu. Potret dalam pasir, pikirku. Saat itu tak ada orang lain yang tau. Aku  pun tertawa kecil. Mengingat betapa bodohnya tindakanku itu. Suatu hal yang tak ada gunanya. Waktu menunjukkan pukul 18.00. Matahari pun terbenam, digantikan oleh sosok bulan dan bintang yang bermunculan dan siap menerangi malam. Menemani malam. Begitulah kisah antara malam dan siang. Mereka tak pernah bisa bersatu. Hanya bisa bertemu pada satu waktu yaitu pada saat senja.. senja yng merupakan perantara antara siang dan malam. Baiklah, kututup jendela sore itu. Kuhempaskan tubuhku pada  sofa seraya kupejamkan kedua mataku. Mata yang tak pernah lelah memandang indahnya karya karya ciptaan  Tuhan. Terlebih karya Tuhan yang saat ini  sedang kuperjuangkan. Haha? Apa itu ? Entahlah. Aku hanya bercanda.. tapi memang.. ada seseorang yang membuatku terus bertahan. Membuatku selalu ingin memperjuangkannya. Aku ingin sekali bisa menjadi tempat yang nyaman untuknya. Seperti dia yang selalu membuatku nyaman. Membuatku merasa aman dan tenang setiap aku bersamanya. Aku ingin menjadi orang terdekatnya setelah ibu dan keluarganya. Aku ingin selalu ada disampingnya. Menjadi bagian darinya. Yang selalu ada untuknya. Dalam suka maupun duka. Aku ingin selalu menjadi orang yang bisa mensupportnya. Apapun yang dia lakukan selagi itu yang terbaik untuk hidupnya, aku ingin bisa menjadi orangn yang ada dibelakangnya. Memberinya dukungan dan semangat serta menjadi tempat ia pulang. Menjadi tempat ia melepas lelah dan bersandar. Menjadi tempat ia berkeluh kesah sambil sesekali menghapus butir butir keringat yang ada di dahinya. Aku tak perduli orang lain mau berkata apa tentangnya. Aku tak peduli dengan segala kekurangannya. Yang jelas, aku mencintai dirinya yang seperti ini. Cukup seperti ini. Aku terima apapun yang ada dalam dirinya. Aku hormati dan hargai dia seperti aku menghormati ayah, sosok pahlawan dalam hidupku. Yah.. dia lelaki kedua yang aku cintai setelah ayah. Sungguh, jika aku boleh meminta. Adakah kesempatan itu sekali saja? Aku hanya ingin menjadi sebagian kecil yang ada dalam kehidupannya. Mungkin diurutan setelah ibu, ayah, dan keluarganya? Yang jelas. Aku mencintainya.                                    Walaupun aku bagaikan tengah membirukan senja yang selalu merah, setidaknya aku pernah mencoba. Aku pernah berjuang. Entah perjuangan itu terlihat dimatanya atau tidak. Aku tidak peduli. Yang jelas. Aku mencintainya untuk 3 hal yang ia miliki. Yaitu hari ini, esok, dan seterusnya.                                        Ini adalah sebuah kisah antara senja dengan sang fajar. Kisah dimana senja hanya bisa menunggu untuk bisa bertemu fajar tanpa tau kapan sang fajar akan menghampiri.